Kamis, 20 November 2014

Laporan ekoper Pola longitudinal sungai di bantaran Dieng



LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI PERAIRAN KONDISI FISIKOKIMIA EKOSISTEM SUNGAI (POLA LONGITUDINAL SUNGAI DI BANTARAN DIENG)







Oleh:
Ika Yesi Setyaningsih
H1G013001




Asisten :
Nurul Riyanti

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK
JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
PURWOKERTO
2014

I.              PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
            Sungai merupakan perairan yang mengalir (lotik), oleh karena itu sungai memiliki arus yang berbeda-beda di setiap tempatnya. Dan di setiap aliran memilki organisme yang berbeda pula. Pada aliran sungai terdapat dua zona utama, yaitu zona air deras dan zona air tenang. Organisme pada zona air deras diantaranya  adalah Corydalus (Neuroptera), dubiraphia, (Coelenterata), Gammarus dan Pontocorela altnis (Crustacea), Cladophora, lumut air dari marga Fontinalis dan sebagainya. Sedangkan organisme pada zona air tenang diantaranya adalah Encilosnia, Hydropsyche, Hagenius, Siphlonurus, Gyrinid (kumbang), Ephemerophetra dan sebagainya (Hawkes, 1978).  
Sungai adalah bentuk-bentuk bentang alam yang terjadi akibat dari proses fluvial. Pada hakekatnya aliran sungai terbentuk oleh adanya sumber air hujan, mencairnya es, atau pun munculnya mata air, dan adanya relief permukaan Air hujan setelah jatuh dipermukaan bumi mengalami evaporasi, merembes kedalam tanah, diserap tumbuh-tumbuhan dan binatang, transpirasi, dan sisanya mengalir dipermukaan sebagai ‘surface run off’. Run off ini dapat segera setelah hujan ataupun muncul kemudian melalui proses resapan dulu kedalam tanah sebagai air tanah dan muncul kembali ( Ahmad, 2009 ).
Perubahan dari pola longitudinal ekosistem sungai dari hulu kehilir sangat dipengaruhi oleh suhu, kecepatan arus, dan pH. Pola longitudinal adalah pola memanjang dari bagian hulu, tengah dan hilir sungai. Pola ini digunakan di suatu perairan yang mengalir seperti sungai dan berfungsi untuk mengetahui perubahan faktor fisika kimia suatu lingkungan perairan dan mengetahui organisme yang hidup di perairan tersebut (Odum, 1996). Oleh karena itu, untuk mengetahui pola longitudinal dari sungai di daerah tinggi Dieng  maka perlu diketahui atau diamati faktor-faktor fisikokimia air dari hulu sampai ke hilir. Selain itu, diamati juga riparian vegetation dan skor fisik habitatnya.



1.2.            Tujuan
Praktikum ekologi perairan, Pola Longitudinal Ekosistem Sungai ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui kandungan oksigen terlarut, BOD, temperatur, pH, lebar sungai, kejernihan air, kecepatan arus, substrat dasar, dan skor fisik habitat.
2.      Mengetahui faktor fisikokimia yang mana yang menunjukkan pola longitudinal.

























II.                     TINJAUAN PUSTAKA
2.1.            Ekosistem
Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terdiri atas komponen- komponen biotik dan abiotik yang saling berintegrasi sehingga membentuk satu kesatuan. Di dalam ekosistem perairan danau terdapat faktor-faktor abiotik dan biotik (produsen, konsumen dan pengurai) yang membentuk suatu hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.. Berdasarkan pustaka lain, telaga adalah suatu badan air alami yang selalu tergenang sepanjang tahun dan mempunyai mutu air tertentu yang beragam dari satu telaga ke telaga yang lain serta mempunyai produktivitas biologi yang tinggi (Ruttner, 1977 dalam Satari, 2001).
Ekosistem adalah kumpulan dari komunitas beserta faktor biotik (tumbuhan, hewan dan manusia) dan abiotik (suhu, iklim, senyawa-senyawa organik dan anorganik). Menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup (UULH) tahun 1982 ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan tingkat organisasi yang lebih tinggi dari komunitas, atau merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya di mana terjadi antar hubungan (Irwan, 1992).
2.2.       Sungai
Sungai adalah aliran air yang mengalir di permukaan bumi yang berasal dari air hujan, mata air yang berkumpul pada satu jalur kemudian mengalir ke tempat yang lebih rendah sampai menuju laut. Sungai sebagai perairan umum yang berlokasi di darat dan merupakan suatu ekosistem terbuka yang berhubungan erat dengan sistem-sistem terestrial dan lentik. Ciri-ciri umum daerah aliran sungai adalah semakin ke hulu daerahnya pada umumnya mempunyai tofograpi makin bergelombang sampai bergunung-gunung. Sungai adalah lingkungan alam yang banyak dihuni oleh organisme (Odum, 1996).
Sungai memiliki dua daerah (zona) utama, yaitu:
1.       Zona Air Deras:   Daerah yang dangkal di mana kecepatan arus cukup tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lainnya, sehingga dasarnya padat, zona ini dihuni oleh benthos yang beradaptasi khusus atau organisme perifitik yang dapat melekat atau berpegangan kuat pada dasar sungai dan ikan perenang kuat.
2.       Zona Air Tenang: Bagian air yang dalam dimana kecepaan arus telah berkurang, maka lumpur dan materi yang berada dalam air cenderung mengendap pada dasar perairan, sehingga dasarnya lunak dan tidak sesuai untuk benthos permukaan tapi cocok untuk penggali nekton dan beberapa plankton (Odum, 1996).
Zonasi pada habitat air mengalir adalah mengarah ke longitudinal, yang menunjukkan bahwa tingkat yang lebih atas berada di bagian hulu dan kemudian mengarah ke hilir. Menurut Soemarwoto (1980), Pada habitat air mengalir ini, perubahan-perubahan yang terjadi akan lebih nampak pada bagian atas dari aliran air karena adanya kemiringan, volume air atau komposisi kimia yang berubah.
              Arus mempunyai arti penting untuk pergerakan ikan. Arus yang searah dari hulu sangat penting untuk pergerakan ikan atau bahkan menyebabkakn ikan-ikan bergerak aktif melawann arus, kea rah muara pergerakan ikan dapat berlangsung dengan pasif maupun mengapung (Wotton, 1992), Sungai merupakan salah satu perairan darat yang mengalir. Berdaasrkan letak dan kondisi lingkungannya dibagi menjadi tiga bagian :
               Hulu sungai, terletak di daerah yang dataran tinggi, menglir melalui bagian yang curam, dangkal, berbatu, arus deras, volume air kecil, kandungan oksigen telarut tinggi, suhu yang rendah, dan warna air jernih.
              Hilir sungai, terletak didaratan yang rendah, dengan arus yang tidak begitu kuat dan volume air yang besar, kecepatan fotosintesis yang tinggi dan banyak bertumpuk pupuk organic
              Muara sungai letaknya hamper mencapai laut atau pertemuan sungai-sungai lain, aus air sangat lambat dengan volume yang lebih besar, banyak mengandung bahan terlarut, Lumpur dari hilir membentik delta dan warna air sangat keruh.



2.3.       Parameter Fisikokimia Perairan Sungai
2.3.1. Oksigen terlarut (DO)
Dissolved oxygen adalah banyaknya oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen masuk ke dalam air melalui difusi langsung pada interface gas-cair, dengan proses aerasi air maupun dari fotosintesis tumbuhan air (Renn, 1968). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi oksigen terlarut dalam air meliputi suhu, kedalaman, musim, polusi, dan limbah organik (Murphy, 2007).
2.3.2.  Biological Oxygen Demand (BOD)
            Menurut Lee et al., (1978) bahwa BOD atau Biological Oxygen Demand adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme  (biasanya bakteri) untuk mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Menurut Lee et al., (1978) dalam  mengemukakan kriteria pencemaran berdasarkan nilai BOD5 yaitu konsentrasi BOD5 < 2,90 mg/l tergolong perairan yang tidak tercemar, konsentrasi BOD5 3,00 – 5,00 mg/l menandakan perairan berada dalam kondisi tercemar ringan, konsentrasi BOD5 5,00 – 14,00 mg/l tergolong perairan tercemar sedang dan konsentrasi BOD5 > 15,00 mg/l mengindikasikan perairan berada dalam kondisi tercemar berat.
2.3.3. Temperatur
Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam suatu perairan karena suhu merupakan faktor pembatas bagi ekosistem perairan dan akan membatasi kehidupan organisme akuatik (Odum, 1971). Menurut Barus (2002), kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar antara 23-32ºC.
Suhu perairan dipengaruhi oleh musim, komposisi sedimen, sirkulasi udara, kekeruhan, penutupan awan, air hujan, luas permukaan perairan yang langsung mendapat sinar matahari, aliran dan kedalaman perairan. Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan perairan yang berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan dan dapat mempengaruhi sifat fisik-kimia perairan dan fisiologi organisme. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatilisasi.
Peningkatan suhu juga menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air dan menyebabkan  terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba. Selain itu, peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air, dan selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen oleh organisme perairan, dan akhirnya mengakibatkan penurunan kandungan oksigen terlarut (Kennish, 1990).
2.3.4. Derajat keasaman air (pH)
Derajat keasaman atau sering dilambangkan dengan pH  (puisanche of the H) merupakan ukuran konsentrasi ion hydrogen yang menunjukkan suasana asam suatu perairan. Ukuran nilai pH adalah 1-14 dengan angka 7 merupakan pH normal (Arie, 1999). Tingkat pH lebih kecil dari 4, 8 dan lebih besar dari 9, 2 sudah dapat dianggap tercemar. Angka pH yang sesuai untuk kehidupan ikan-ikan tersebut adalah 6,5-8,4 (Asdak, 2007).
2.3.5. Lebar Sungai
Lebar adalah jarak antara sisi yang kiri dengan sisi yang kanan. Lebar sungai sangatlah dipengaruhi oleh riparian vegetation yang menjaga terjadinya pengikisan Konduktivitas air yang baik bagi kehidupan suatu mahluk hidup di perairan  yaitu di bawah 400μs. Konduktivitas perairan yang melebihi atau diatas 400μs mahluk hidup atau organisme yang hidup di perairan akan stress dan akan mati. Jika di perairan sungai terdapat banyak partikel maka hantaran listrik tinggi (Ewuise, 1990).
Keanekaragaman dan kelimpahan biota juga ditentukan oleh karakteristik habitat perairan. Semakin panjang dan lebar ukuran sungai semakin banyak pula jumlah biota yang menempatinya (Kottelat et al, 1996).
2.3.6. Kedalaman Sungai
Perairan sungai umumnya terdiri dari dua habitat yang berbeda yaitu habitat riam dan habitat lubuk. Habitat riam yaitu bagian dari sungai yang airnya dangkal tapi arusnya cukup kuat untuk mengendapkan sediment di dasar, sehingga menyebakan dasar sungai menjadi padat. Wilayah ini terutama dihuni oleh bentos yang beradaptasi khusus atau organisme feritik yang mampu melekat atau menempel pada dasar yang padat, dan juga ikan yang mampu melawan arus deras. Zona ini ada di daerah hulu sungai di dataran tinggi.

2.3.7. Kejernihan Air
Kejernihan air merupakan kemampuan matahari untuk menembus air, Cahaya matahari masuk ke dalam perairan dipengaruhi oleh zat-zat terlarut dalam air. Pembacaan secchi disk antara lain kurang dari 20 cm air terlalu keruh, antara 20 – 30 cm kekeruhan terlalu keruh, antara 30 – 60 cm kondisi air ideal, lebih dari 60 cm air terlalu jernih (Effendi, 2003).
2.3.8. Kecepatan Arus
Ada zona utama pada aliran air / sungai (Odum, 1998), yaitu:
-                      Zona Air Deras
Daerah yang cukup dangkal dimana kecepatan arus tinggi untuk menyebabkan dasar sungai bebas dari endapan dan materi yang terlepas sehingga dasarnya padat. Zona ini dihuni oleh bentos yang beradaptasi khusus atau organisme feritik yang mampu melekat atau menempel pada dasar yang padat, dan juga ikan yang mampu melawan arus deras. Zona ini ada di daerah hulu sungai di dataran tinggi.
-                      Zona Air Tenang
Bagian sungai yang dalam dimana kecepatan arus mulai berkurang, maka materi, Lumpur lepas mulai mengendap dalam air sehingga dasarnya lunak dan tidak sesue untuk bentos, tetapi cocok untuk penggali nekton dan beberapa kasus plankton. Zona ini banyak dijumpai di daerah yang landai.
Pada sungai dapat dijumpai tingkat yang lebih tua dari hulu ke hilir,perubahan lebih terlihat pada bagian atas aliran air, dan komposisi kimia berubah dengan cepat. Dan komposisi komunitas berubah sewajarnya yang lebih jelas pada kilometer pertama disbanding lima puluh (50) kilometer terakhir.(Odum. 1988).
Arus merupakan ciri khas perairan yang mengalir yang membedakan dengan perairan tergenang. Kecepatan tidak selalu tetap dan bervariasi. Menurut Hawkes (1978), kecepatan arus dikelompokkan menjadi empat kriteria, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Kriteria kecepatan arus menurut Hawkes (1978)
No
Kecepatan Arus ( cm/dt)
Jenis Arus
1
100
Sangat kuat
2
50-100
Cepat
3
25-50
Lambat
4
10-25
Sangat lambat

Kecepatan aliran tergantung pada kecuraman gradient, halus kasarnya sungai, lebarnya perairan, kedalaman perairan dan pasokan airya. Pada alur sungai yang lurus, arus tercepat berada di tengah sungai. Hal ini sesuai dengan hukum fisika mengenai gesekan (fiction) yaitu daerah yang terbebas adalah yang tercepat arusnya. Pada alur sungai yang berkelok (meander), bagian-bagian yang tercepat arusnya adalah pinggir bagian bawah sungai. hal ini sesuai dengan hukum fisika mengenai putaran massa, disuatu aliran yang sama (membujur dan melintang dari arah aliran) dari waktu ke waktu. Kecepatan arus akan berkurang sesuai dengan semakin bertambahnya kedalam ke suatu perairan dan akhirnya angin tidak berpengaruh sama sekali tehadap kecepatan arus pada kedalaman 200 m. Tingkat kecepatan aliran air sungai tidak selalu tetap,sehingga substat dasar akan berubah ubah (Hawkes, 1978).
Pada sungai dapat dijumpai tingkat yang lebih tua dari hulu ke hilir, perubahan lebih terlihat pada bagian atas aliran air, dan komposisi kimia berubah dengan cepat. Dan komposisi komunitas berubah sewajarnya yang lebih jelas pada kilometer pertama dibanding lima puluh (50) kilometer terakhir (Odum, 1988).
Tabel 2. Kecepatan arus yang mempengaruhi tipe sediment Koesbiono (1979).
No
Kecepatan arus (cm/dt)
Jenis sediment
1
121
Karang
2
91
Batu besar
3
60
Batu kecil
4
30
Batu kerikil
5
20
Pasir
6
12
Lumpur


2.3.9. Substrat dasar
Substrat dasar perairan sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus dan tegangan pada dasar perairan. Kecepatan arus sungai tidak tetap, sehingga substrat dasar sungai tersebut akan bervariasi. Substrat dasar perairan di daerah hulu biasanya berbatuan dan di daerah hilir atau muara biasanya berlumpur (Hynes, 1972). Selanjutnya Hynes (1972), menyatakan kecepatan arus 121 cm/dtk jenis substrat dasar berupa batu keras, 91 cm/dtk substratnya berupa batu besar, 60 cm/dtk substratnya berupa batu kecil, 30 cm/dtk substrat dasar pasir berbatu kecil, 20 cm/dtk substratnya berupa pasir dan 12 cm/dtk jenis substrat akan berupa lumpur.
2.3.10.  Konduktivitas dan Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi total ion yang terdapat di perairan Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air, setelah semua karbonat di konversi menjadi oksida, semua bromide dan iodide digantikan oleh klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi (Effendi, 2003). Sedamgkan daya hantar listrik (DHL) atau conductivity adalah gambaran numeric dari kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik. Satuan dari conductivity adalah µmhos/cm (Sary, 2006).
Secara umum,bentik dapat hidup dengan keragaman yang tinggi pada berbagai tipe salinitas di perairan yang berbeda mulai dari perairan tawar, payau hingga perairan laut. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman bentik yang tinggi di dalam komunitasnya, menyebabkan bentik memiliki tingkat adaptasi yang tinggi dalam berbagai tipe salinitas. Salinitas di dalam sedimen dapat berfluktuasi baik secara spasial maupun  secara temporal. Secara spasial, gradien salinitas  dapat terjadi baik secara  vertikal maupun horizontal, sedangkan secara temporal bergantung pada musim dan siklus pasang surut air laut (Effendi, 2003).
2.3.11.  Skor Fisik Habitat
Merupakan suatu kriteria dalam menentukan suatu kondisi fisik habitat  berdasarkan (Effendi, 2003).Parameter yang diukur yaitu, Substrat dasar, Kekomplekan habitat, Kualitas bagian yang menggrnang dan  Kestabilan tepi sungai. Sedangkan pengelompokan penilaiannya yaitu optimal, suboptimal, marginal, dan poor.
III.        MATERI DAN METODE
3.1.       Materi
3.1.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah, termometer,pH meter, botol aqua, conductivitymeter,  keping secchii, labu erlenmeyer,botol winkler, rolling meter, tongkat penduga, saringan, ember, pinset, botol film dan tali rafia.
3.1.2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air sungai yang diukur fisikokimianya,MnSO4,KOH-KI,H2SO4 dan larutan Na2S2O3(0.025n).
3.2.       Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini dilakukan dengan metode pengukuran faktor fisikokimia air dari hulu sampai dengan hilir sepanjang sungai Serayu. Parameter yang akan di ukur yaitu DO, BOD, temperatur, pH, lebar sungai, kedalaman, kejernihan air, substrat dasar, skor fisik habitat, dan kecepatan arus.
3.2.1.      Dissolved Oxygen (DO)
Sampel air diambil menggunakan botol winkler sebanyak 250ml tanpa ada gelembung. Larutan MnSO4, KOH-KI masing-masing 1ml (gunakan pipet ukuratau jaru suntik), biarkan hingga terbentuk endapan, tambahkan larutan H2SO4 pekat  ke dalam botol kemudian dikocok sampai endapan larut. Kemudian di ambil sebanyak 100ml ke labu erlenmeyer, kemudian di titrasi denga larutan Na2S2O3 (0.025n) sampai larutan berwarna kuning muda, kemudian tambahkan amilum 10 tetes hingga berwarna biru. Kemudian di titrasi kembali hingga warna biru hilang. Titrasi duplo dan hasilnya di rata-rata dengan rumus perhitungan.
Kandungan DO dapat dihitung dengan rumus :
DO = 1000/100 x p x q x 8
Keterangan :
DO = Oksigen terlarut (mg/l)
p     = Volume larutan Na2S2O3 (ml)
q     = Normalitas larutan (n)
8     = Bobot setara larutan
3.2.2. Pengukuran Biological Oxygen Demand (BOD)(MetodeWinkler)
Pengukuran BOD dilakukan berdasarkan metode Winkler (APHA, 1985) yaitu sampel dimasukkan ke dalam dua botol Winkler volume 250 ml sampai penuh. Botol wikler pertama segera diperiksa kandungan oksigennya (DO 0 hari), sedangkan botol winkler kedua diinkubasi selama 5 hari, diperiksa kandungan oksigennyan (DO 5 hari). Untuk pengukuran blanko, prosedur kerja sama seperti pada sampel.Kandungan BOD dapat dihitung dengan rumus :
               (A0 –A5  ) - (S0 – S5) T
BOD =
                                            P
Keterangan :
A0       : Oksigen terlarut sampel pada nol hari
A5       : Oksigen terlarut sampel pada lima hari
S0        : Oksigen terlarut blanko pada nol hari
S5        : Oksigen terlarut blanko pada lima hari
T          : persen perbandingan antara A0 : A5
P          : derajat pengenceran
3.2.3. Pengukuran Temperatur
Pengukuran temperatur menggunakan termometer yaitu dengan cara menyelupkan termometer ke dalam perairan. Ditunggu beberapa menit sampai pengukuran stabil. Pengukuran dilakukan di tiga titik kemudian dirata-ratakan.
3.2.4. Pengukuran Derajat keasaman air (pH)
Tingkat keasaman air sungai diukur dengan menggunakan pH meter. Kertas pH meter dicelupkan ke dalam perairan,disamakan perubahan warna pada kertas dengan warna skala pH yang tercantum.
3.2.5. Pengukuran Lebar Sungai
Pengukuran lebar sungai dilakukan dengan rolling meter,yaitu dengan memperkirakan panjang dari rafia yang dibentangkan di atas sungai.Bila tidak memungkinkan dilakukan estimasi yaitu dengan memperkirakan panjang sungai melihat dari panjang jembatan yang berada di atas sungai.
3.2.6. Pengukuran Kedalaman Sungai
Pengukuran kedalaman dilakukan dengan tongkat penduga yang telah diberi skala panjang. Kedalaman diukur setiap 2 meter lebar sungai.
3.2.7. Pengukuran Kejernihan air
Tingkat kejernihan air diukur dengan menggunakan keping secchi, yaitu dengan cara memasukkan keping tersebut ke dalam perairan hingga batas antara putih dan hitam tidak dapat dibedakan. Jika sampai dasar sunngai masih terlihat, maka catat kedalaman sungai tersebut.
3.2.8. Pengukuran Kecepatan Arus
Menggunakan metode apung dilakukan pengukuran waktu yang dibutuhkan botol aqua kosong untuk hanyut 10 m.
3.2.9. Pengukuran Substart dasar
Pengukuran substrat dasar dilakukan dengan metode visual, yaitu memperhatikan jenis abiota yang terdapat pada perairan tersebut. Jenis substrat dasar bisa berupa lumpur, tanah berpasir, kerikil, ataupun batuan besar.
3.2.10.  Pengukuran Konduktivitas dan Salinitas
Pengukuran konduktivitas digunakan conductivitymeter dengan diukur daya hantar listrik dan salinitas perairan tersebut.
3.2.11.  Pengukuran Skor Fisik Habitat
Dengan menggunakan tabel Barbour dan Stribling, dihitung perhitungan skor fisik habitat tiap stasiun pengamatan.
Tabel 3.Kriteria Penilaian Kondisi Fisik Habitat Barbour danStribling
Habitat parameter
Optimal
SKOR: 20
Suboptimal
SKOR: 15
Marginal
SKOR: 10
Poor
SKOR: 5
Substrat dasar
Lebih dari 60% dasar perairan terdiri atas  kerikil, batu, cadas dengan porsi yang kurang lebih sama.
30-60% dari  dasar perairan berupa bebatuan atau cadas  didominasi oleh salah satu kelas ukuran tersebut.
10-30% merupakan salah satu materi yang besar tetapi lumpur atau pasir
70-90% mendominasi substrat dasar.
Substrat didominasi oleh lumpur dan pasir kerikil dan materi yang besar <10%.
Kekomplek
kan habitat
Berbagai macam tipe kayu pohon, cabang, tumbuhan akuatik, terdapat pada segmen sungai membentuk habitat yang bervariasi. Segmen sungai tertutup kanopi.
Substrat cukup bervariasi. Segmen sungai cukup terlindungi.
Habitat didominasi 1 atau 2 macam substrat, Tumbuhan tepi yang dinaungi segmen sungai sedikit.
Habitat monoton pasir dan lumpur menyebabkan habitat tidak bervariasi.
Kualitas bagian menggenang
25% dari bagian yang menggenang sama atau lebih lebar dari setengah lebar sungai, kedalaman >1m.
<5% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih ½ lebar sungai. Umumnya bagian yang dalam ini lebih kecil dari setengah sungai dan kedalamannya > 1m.

<1% bagian yang menggenang kedalamannya >1m dan lebih lebar sungai bagian yang menggenang ini mungkin sangat dalam/ dangkal. Habitat tidak bervariasi.
Bagian yang menggenang  kecil dan dangkal bahkan mungkin tidak terdapat bagian yang menggenang.
Kestabilan tepi sungai
Tidak pernah ada bukti-bukti bahwa tempat tersebut pernah terjadi erosi atau berpotensi erosi.
Jarang terjadi bagian tepi yang gugur, kemungkinan gugur ada tetapi rendah.
Bagian tepi ada ynag mengalami erosi pada saat banjir.
Bagian tepi tidak stabil, sering terjadi erosi.

3.3.       Waktu dan Tempat Praktikum
Pengambilan sampel dilakukan pada hari Minggu  tanggal 2 November 2014. Pengambilan dilakukan di stasiun Kembangan,Singomerto dan Telaga Warna.
3.4.       Analisis Data
Data dianalisa menggunakan tabel dan grafik untuk menentukan sifat fisiko kimia sungai di dataran tinggi Dieng.




















IV.        HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.            Hasil Pengamatan Kondisi Fisiko kimia Ekosistem Sungai (Pola Longitudinal Das Serayu).
Description: Untitled2Tabel 4.Sifat fisiko kimia didataran tinggi Dieng











Tabel 2.Kelompok 1
Stasiun
Kembangan
Singomerto
Telaga Warna
Temperatur
27,3 C’
25,6 C’
23 C’
Kecepatan arus
0,6 M/S
0,38 M/S
-
Tipe Substrat
OPTIMAL
SUB OPTIMAL
MARGINAL
Oksigen
5,6ppm
7ppm
0,2ppm
Skor Fisik Habitat
60
65
40
pH
7
7
-
Lebar Sungai
44 M
50 M
-
Kejernihan
66,5 CM
23,3 CM
-

4.2.       Pembahasan
4.2.1. Dissolved Oxygen (DO)
Air mengandung gas terlarut seperti oksigen, dimana air umumnya mengandung 4-8 ppm oksigen. Oksigen dapat larut dalam air karena molekul-molekul oksigen menempati ruang diantara molekul air. Kelarutan okigen dalam air  bergantung pada suhu. Oksigen terlarut dalam air sangat menentukan baku mutu air sebagai air baku di industri.
   Banyaknya oksigen yang terlarut dalam air. Oksigen masuk ke dalam air melalui difusi langsung pada interface gas-cair, dengan proses aerasi air maupun dari fotosintesis tumbuhan air (Renn, 1968). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi oksigen terlarut dalam air meliputi suhu, kedalaman, musim, polusi, dan limbah organik (Murphy, 2007).
Gambar 1.Grafik Pengukuran DO
Dari hasil pengamatan kandungan oksigen di berbagai sungai yang di kunjungi bervariasi. Kandungan Oksigen tertinggi terdapat di Sungai Kejajar, Singomerto dan kandungan oksigen terendah terdapat di sungai Garung. Ketidakstabilan oksigen terlarut dapat disebabkan oleh perbedaan temperatur yang mempengaruhi perbedaan oksigen dalam air, juga dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya curah hujan yang terjadi. Dissolved oxygen adalah Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin ke hilir kandungan oksigen semakin rendah, begitu pula dengan suhunya yang bernilai tinggi. Perubahan oksigen dipengaruhi oleh perubahan temperatur dengan menunjukkan sifat yang berkebalikan. Temperatur tinggi maka kandungan oksigennya rendah begitu pula sebaliknya (Sutimin, 2001)
4.2.2. Biological Oxygen Demand (BOD)
Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan bakteri untuk menguraikan oksigen hampir semua zat organik terlarut dan sebagai zat –zat organik yang tersuspensi dalam air. Biological Oxygen Demand menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan organik dalam air. Menurut Lee et al., (1978) dalam  mengemukakan kriteria pencemaran berdasarkan nilai BOD5 yaitu konsentrasi BOD5 < 2,90 mg/l tergolong perairan yang tidak tercemar, konsentrasi BOD5 3,00 – 5,00 mg/l menandakan perairan berada dalam kondisi tercemar ringan, konsentrasi BOD5 5,00 – 14,00 mg/l tergolong perairan tercemar sedang dan konsentrasi BOD5 > 15,00 mg/l mengindikasikan perairan berada dalam kondisi tercemar berat.           
Tabel 6. BOD Pustaka (Lee et al., 1978)
BOD'5
Kategori
< 2.90
Tercemar
3.00 – 5.00
Tercemar Ringan
5.00 – 14.00
Tercemar Sedang
> 15,00
Tercemar Berat

Gambar 2.Grafik Pengukuran BOD
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat hasil pengukuran temperatur sungai sebagai berikut, Sungai Kejajar (2,2), Garung (1,9), Prigi (1,3), Singomerto (2,1), Mrican (3,4), Mandiraja (1,9), Kembangan (2,7), dan Cowakan Semar (2,6). Sungai yang memiliki jumlah BOD dibawah batas  Minimum dikatakan kurang baik karena bila jumlah BOD pada sungai rendah, maka mikroorganisme tidak dapat mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobic karena tidak terpenuhinya jumlah kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme. Perbedaan nilai BOD di tiap sungai dipengaruhi oleh faktor fisiko-kimia seperti suhu, kejernihan, kekeruhan, dan salinitas. Sehingga nilai BOD akan berbeda di tiap sungainya. BOD sebagai suatu ukuran jumlah oksigen yang digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat diurai (Mays, 1996).
Nilai BOD dari hulu ke hilir seharusnya menurun karena jika perairan yang berada di hulu sungai memiliki kadar oksigen cukup tinggi disebabkan masih banyaknya pepohonan dan sumber oksigen lainnya, sedangkan perairan di hilir sungai kadar oksigen nya sudah berkurang diakibatkan pencemaran dari limbah yang dibuang oleh masyarakat hilir. Tingkat BOD dikatakan rendah yaitu dengan nilai antara 0 – 10 ppm, sedang 10 ppm, dan kategori tinggi dengan nilai 25 ppm (Wirosarjono, 1974).

4.2.3. Temperatur
Setiap penelitian ekosistem air, pengukuran temperatur air merupakan hal yang mutlak dilakukan. Hal ini di sebabkan karena kelarutan berbagai jenis gas di dalam air serta semua aktivitas biologis-fisiologis didalam ekosistem air sangat dipengaruhi temperatur. Menurut Vant’t Hoffs dalam Barus (2002), kenaikan temperatur sebesar 10°C (hanya pada kisaran temperatur yang masih di tolerir) akan meningkatkan laju metabolisma dari organisme sebesar 2-3 kali lipat.
Grafik 3.Grafik Pengukuran Temperatur
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat hasil pengukuran temperatur sungai sebagai berikut, Sungai Kejajar (24C), Garung (22C), Prigi (27C), Singomerto (26,3C), Mrican (26C), Mandiraja (28,3C), Kembangan (27,2C), dan Cowakan Semar (29C). Dari data tersebut dapatdisimpulkan  bahwa sungai yang memiliki suhu paling tinggi adalah sungai pada daerah Cowakan Semar dengan temperatur mencapai 29C. Sedangkan sungai yang memiliki temperatur yang lebih rendah adalah sungai Garung dengan temperatur 22C. Kisaran temperatur tersebut masih sesuai dengan tinjauan pustaka bahwa kisaran suhu air yang baik dalam perairan dan kehidupan ikan yaitu berkisar abtara 23-32C (Odum, 1971)
Ini sesuai dengan pernyataan Effendi (2003), yang menyatakan bahwa temperatur sangatlah dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari yang sampai pada air sungai. Temperatur yang stabil dalam perairan adalah 25°C- 30°C. Temperatur optimum yang layak untuk kehidupan organisme yaitu 25°C-28°C. Menurut Effendi (2003) temperatur dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, sirkulasi udara serta kedalaman.
4.2.4. Derajat keasaman air (pH)
Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi peraira bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Efendi, 2003).
Derajat keasaman atau sering dilambangkan dengan pH  (puisanche of the H) merupakan ukuran konsentrasi ion hydrogen yang menunjukkan suasana asam suatu perairan. Ukuran nilai pH adalah 1-14 dengan angka 7 merupakan pH normal (Arie, 1999).
Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap prubahan pH. pH yang disukai oleh biota akuatik yaitu antara 7 - 8,5. Pada pH < 4, sebagian tumbuhan air mati karena tidak dapat bertoleransi dengan pH rendah (Effendi, 2003). Berikut adalah pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan, ditunjukkan dalam tabel 2.
Tabel 7. Pengaruh pH terhadap komunitas Biologi perikanan
Nilai Ph
Pengaruh Umum
6,0 - 6,5
1.      Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun

2.      Kelimpahan total, biomassa, dan produktivitas tidak       mengalami perubahan
5,5 – 6,0
1.      Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan bentos semakain tampak

2.      Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas masih belum mengalami perubahan yang berarti
3.      Algae hijau berfilamen mulai tampak pada zona litoral
5,0 – 5,5
1.      Penurunan keanekaragaman dan komposisi Janis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar.

2.      Terjadi penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan bentos

3.      Algae hijau berfilamen semakin banyak.

4.      Proses nitrifikasi terhambat.
4,5 – 5,0
1.      Penurunan keanekaragaman dan komposisi Janis plankton, perifiton, dan bentos semakin besar.

2.      Penurunan kelimpahan total, biomassa zooplankton dan bentos.

3.      Algae hijau berfilamen semakin banyak.

4.      Proses nitrifikasi terhambat.
            Sumber: modifikasi Baker et al., 1990 dalam Novotny dan Olem, 1994           
Gambar 4.Grafik Pengukuran pH
Berdasarkan pengukuran Grafik  hasil data yang diperoleh tingkat derajat keasaman air (pH) dari hulu ke hilir adalah Sungai Kejajar (7), Garung (7), Prigi (6), Singomerto (7), Mrican (6), Mandiraja (7), Kembangan (7), dan Cowakan Semar (7). Dari data tersebut rata-rata nilai pH nya  adalah 7 yang berarti netral, tidak terlalu asam atau basa, dengan demikian air sungai tersebut dapat dinyatakan normal. Kedelapan sungai tersebut mengandung pH yang mendekati ukuran netral, hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka bahwa setiap organisme atau individu memiliki ketentuan pada derajat keasaman (pH) berapa mereka dapat hidup (Mackereth et al, 1989).                   
4.2.5. Lebar Sungai
Pengukuran lebar sungai dilakukan dengan cara estimasi. Estimasi bisa dengan melihat panjang jembatan sungai. Lebar hulu sungai lebih kecil dibanding hilir sungai, karena  terjadi erosi di hilir sungai. Semakin panjang dan lebar ukuran sungai semakin banyak pula jumlah biota yang menempatinya (Koesbisono, 1979). Lebar adalah jarak antara sisi yang kiri dengan sisi yang kanan. Lebar sungai sangatlah dipengaruhi oleh riparian vegetation yang menjaga terjadinya pengikisan.
Gambar 5.Grafik Lebar Sungai
Dari praktikum pengukuran lebar sungai diperoleh data sebagai berikut, Sungai Kejajar (6,5m), Garung (17m), Prigi (32m), Singomerto (50m), Mrican (18m), Mandiraja (85m), Kembangan (44m), dan Cowakan Semar (32m). Lebar sungai pada sungai serayu dari hilir ke hulu memiliki perbedaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh bentuk topografi, substrat dasar, riparian vegetation, erosi dan arus sungai yang membawa endapan dari dasar sungai tersebut (Ewuise, 1990).
4.2.6. Kedalaman Sungai
Kedalaman adalah jarak antara dasar sampai ke permukaan sungai. Kedalaman merupakan penyebab terjadinya perbedaan dan keanekaragaman didalam perairan dasar, tengah dan permukaan.  Kedalaman suatu perairan melebihi dari 3 meter akan mengganggu proses fotosintesis, karena cahaya matahari tidak dapat menembus kedasar perairan yang terlalu dalam (Hawkins, 1979).
Gambar 6.Grafik Kedalaman Sungai
Dari praktikum pengukuran Kedalaman  sungai diperoleh data sebagai berikut, Sungai Kejajar (23m), Garung (60m), Prigi (35,67m), Singomerto (50,8m), Mrican (88,3m), Mandiraja (40m), Kembangan (50,9m), dan Cowakan Semar (45,5m). Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa Sungai Mrican memiliki kedalaman paling tinggi yaitu  88,3 m dan Sungai Kejajar memiliki kedalaman paling rendah yaitu 23 m. Kedalaman di sungai serayu pada setiap stasiun bervariasi, perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan suatu substrat dasar, kecepatan arus dan topografi dari sungai tersebut (Hawkins, 1979).
4.2.7. Kejernihan Air
Penetrasi cahaya sering kali dihalangi oleh zat yang terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa di mana habitat akuatik di batasi oleh kedalaman. Kedalaman itu disebut kejernihan cakram secchi yang dapat berkisar antara beberapa cm pada air yang amat keruh, sampai 40m pada air yang amat jernih (Odum, 1996).





 










Gambar 7.Grafik Kejernihan air sungai
Dari pangamatan tingkat kejernihan air telah diperoleh data sebagai berikut, Sungai Kejajar (8,30), Garung (22,5), Prigi (34), Singomerto (50,8), Mrican (41), Mandiraja (28,5), Kembangan (50,9), dan Cowakan Semar (20). Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa di kembangan menunjukkan kejernihan air sampai dasar, singomerto sampai dasar, sampai dasar. Tingkat kekeruhan air yang rendah disebabkan oleh kandungan substrat dasar yang berupa lumpur, partikel yang mengendap dan arus yang rendah.
4.2.8. KecepatanArus
Mengukur kecepatan arus menggunakan metode apung dilakukan di tiga titik yang berbeda. Botol 600 ml yang telah diikat dengan tali raffia sepanjang 10 meter diisi dengan setengah penuh air kemudian dilempar ke sungai. Kecepatan arus pada tiap stasiun sungai beraneka ragam. Pada hulu sungai yaitu stasiun gumawang  kecepatan arus lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Effendi, 2003 yaitu kecepatan arus dan pergerakan air sangat dipengaruhi oleh jenis bentang alam (landscape), jenis batuan dasar, dan curah hujan. Semakin rumit bentang alam, semakin besar ukuran batuan dasar, dan semakin banyak curah hujan, pergerakan air semakin kuat dan kecepatan arus semakin cepat.
Gambar 8.Grafik Kecepatan Arus Sungai
Kecepatan arus sungai tidak tetap, sehingga substrat dasar sungai tersebut akan bervariasi. Substrat dasar perairan di daerah hulu biasanya berbatuan dan di daerah hilir atau muara biasanya berlumpur (Hynes, 1972).
Berdasarkan pangamatan kecepatan arus telah diperoleh data sebagai berikut, Sungai Kejajar (0,7), Garung (0,6695), Prigi (0,9815), Singomerto (0,2985), Mrican (0,357), Mandiraja (1,17), Kembangan (0,595), dan Cowakan Semar (0,15). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan arus sungai adalah kemiringan, kesuburan kadar sungai, juga kedalaman dan keleburan sungai, yang membuat kecepatan arus disepanjang aliran sungai berbeda hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka (Odum ,1995).Pada bagian dalam hilir sungai dengan arus lemah karena terdapat lumpur dan partikel-partikel yang mengendap. Dengan kata lain kecepatan arus semakin ke hilir akan semakin lambat. (Odum, 1971).
4.2.9. Substrat dasar
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan didapat hasil bahwa Sungai kembangan substratnya berbeda-beda di setiap stasiun. Substrat dasarnya yaitu di Singomerto berpasir dan di Kembangan batu kerikil. Dapat dilihat bahwa sungai pada daerah hulu substrat dasarnya didominasi oleh batuan
.


Tabel 5.Substrat Dasar dapat dilihat dibawah ini :
Stasiun
Substrat Dasar
Kejajar
Berpasir, Kerikil, Batu
Garung
Batu
Prigi
Batu, Berpasir, Berlumpur
Singomerto
Berbatu
Mrican
Batu dan Kerikil
Mandiraja
Kerikil, Batu
Kembangan
Berbatu
Cowakan Semar
Lumpur, Batu
Sungai Serayu substratnya berbeda-beda di setiap stasiun. Substrat dasarnya yaitu di Kejajar: Berpasir, Kerikil, Batu, Garung: Batu, Prigi: Batu, Berpasir, Berlumpur, Singomerto: Berbatu, Mrican: Batu dan Kerikil, Mandiraja: Kerikil, Batu, Kembangan: Berbatu, dan Cowakan Semar: Lumpur, Batu. Hal ini disebabkan oleh bentuk topografi dari sungai tersebut, dimana arus deras biasanya membawa endapan-endapan pada dasar sungai. Seperti sungai Prigi dan Cowakan Semar yang memiliki substrat dasar lumpur, karena kedua sungai berada di bagian hilir. Hal ini sesuai dengan tinjauan pustaka bahwa substrat dasar yang berupa lumpur, tanah liat berpasir biasanya ditemukan didaerah hilir yang ditempati oleh sedikit organisme (Hawkins, 1979).
Tipe substrat dan pH adalah faktor utama yang mengendalikan distribusi bentos. Adaptasi terhadap substrat akan menentukan morfologi, cara makan, daya tahan dan adaptasi fisiologis organisme bentos terhadap suhu, salinitas, reaksi enzimatik serta faktor kimia lainnya. Interaksi antara faktor abiotik dan biotik dalam suatu lingkungan akuatik dimana keberadaan organisme atau biota sangat terkait dengan beberapa faktor, antara lain jenis dan kualitas air serta kualitas substrat dasar (Emiyarti, 2004 dalam Zulkifli, H dan Doni Setiawan, 2011). Substrat berlumpur merupakan habitat yang cocok bagi kebanyakan hewan bentik


4.2.10.  Konduktivitas dan Salinitas
Gambar 9.Grafik Konduktivitas dan salinitas
Berdasarkan pangamatan konduktivitas telah diperoleh data sebagai berikut,Sungai Kejajar (97mmhos), Garung (99mmhos), Prigi (102mmhos),Singomerto (116mmhos), Mrican (160mmhos), Mandiraja (114mmhos), Kembangan (110 mmhos), dan Cowakan Semar (124mmhos). Ini sesuai dengan pernyatan Ewuise (1990) yang menyatakan bahwa konduktivitas air yang baik bagi kehidupan suatu mahluk hidup di perairan  yaitu di bawah 400μs. Konduktivitas perairan yang melebihi atau diatas 400μs mahluk hidup atau organisme yang hidup di perairan akan stress dan akan mati. Jika di perairan sungai terdapat banyak partikel maka hantaran listrik tinggi.
4.2.11.  Skor Fisik Habitat
Skor fisik habitat adalah nilai dari kondisi yang terdapat pada suatu lingkungan habitat sungai tertentu. Dari nilai fisik tersebut dapat diperoleh bagaimana kondisi pada lingkungan tersebut, apakah lingkungan tersebut dalam keadaan Sub optimal, optimal, marginal atau poor (buruk) bagi organisme yang hidup didalamnya maupun yang ada disekitar sungai tersebut. Untuk dapat mendeskripsikan berapa skor fisik habitat dari suatu ekosistem dapat menggunakan tabel Barbour dan Stribling tahun 1991.


Gambar 10.Skor fisik habitat
Dari hasil praktikum menunjukkan bahwa nilai skor fisik habitat yang terbanyak adalah di stasiun garung yaitu sebesar  80. Sedangkan yang paling sedikit yaitu stasiun cowakan sema yaitu sebesar 50 kondisi di stasiun ini adalah dalam kategori marginal yaitu 10%-30% merupakan suatu materi yang besar. Berdasarkan hasil yang didapat bahwa daerah hulu memiliki nilai skor habitat yang rendah dibandingkan dengan daerah hilirnya. Kondisi fisik habitat barbour dan stribling berdasarkan substrat dasar, kekomplekan habitat, kualitas bagian menggenang dan kestabilan tepi sungai. Penilaian optimal, suboptimal, marginal, dan poor juga menjadi kriteria kondisi fisik barbou dan stribling (Effendi, 2003).











V.           KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.  Kesimpulan
1.      Berdasarkan dari hasil pengamatan parameter Ekosistem Sungai (Pola Longitudinal Das Serayu) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
a.       Pada pengukuran DO stasiun yang konsentrasinya tertinggi adalah pada stasiun Kejajar dan Singomerto yaitu 7.
b.      Pada pengukuran BOD stasiun yang konsentrasinya tertinggi adalah pada stasiun Mrican (3,4).
c.       Temperatur yang konsentrasinya tertinggi terdapat pada stasiun Cowakan Semar (29C).
d.      Pengukuran pH dengan pHmeter diperoleh pada sebagian besar stasiun sungai memiliki pH yang sama yaitu 7, dengan demikian air sungai tersebut dapat dinyatakan normal.
e.       Pengukuran lebar sungai dilakukan dengan cara estimasi, lebar terbesar dimiliki oleh stasiun  mencapai 85 meter.
f.       Dari hasil pengamatan, di semua stasiun jernih dan tingkat kejernihan tertinggi terdapat pada stasiun Kembangan (50,9).
g.      Kecepatan arus pada tiap stasiun sungai beraneka ragam.Kecepatan arus tertinggi yaitu pada stasiun Prigi (1,3).
h.      Kedalaman Sungai terdalam di stasiun Mrican (88,3 meter).
i.        Kondisi fisik substrat dasar di Sungai kejajar,garung,singomerto,mrican,mandiraja,prigi,kembangan dan cowakan semar yaitu bersubstrat pasir,batu,lumpur dan kerikil.
j.        Nilai konduktivitas tertinggi terdapat pada stasiun Mrican (160 mmhas).
k.      Pengukuran skor fisik habitat,yang tertinggi pada stasiun Garung mencapai 80.
2.      Faktor fisko-kimia dari beberapa sungai perubahan dari pola longitudinal ekosistem sungai dari hulu kehilir sangat dipengaruhi oleh suhu, kecepatan arus, dan pH.

5.2.  Saran
Lebih telitidalam melakukan pengamatan seperti misalnya mengukur lebar sungai, kecepetan arus, dan lebih teliti dalam mengamati suhu, pH skor fisik habitat. Dan hasil ini agar bisa dijadikan acuan untuk pengembangan studi ekosistem sungai




















DAFTAR PUSTAKA
Ahmad. 2009. Karakteristik Daerah Aliran Sungai (Das) Serayu Provinsi Jawa Tengah Berdasarkan Kondisi Fisik, Sosial Serta Ekonomi. Universitas Indonesia. Depok.

Arie, U. 1999. Pembenihan dan Pembesaran Nila Gift. Penebar Swadaya. Jakarta.

Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah mada university press. Yogyakarta

Barus, 2002. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta:  PT. Gramedia, Hal 459

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.

Hawkins, H.A.1979. Invertebrates an Indikator Of River Water Quality. In James, A. And L. Erison, ED. Biology Indikator Of Water Quality. Jon Willey Sons, Toronto.


Hynes, H. B. 1972. The Ecological of Running Water. Liverpool University Press Ltd, London.

Jeffries, M and Mills, D. 1996. Freshwater Ecology, Principles, and Aplications. John Wiley and Sons, Chichester, UK. 285 p.


Koesbiono. 1979. Ekologi Perairan. Bogor. IPB

Kottelat, M, Whitten, J.A., Wirjoatmodja, S. & Kartikasari, S.N. 1996. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Jakarta: Periplus Edition. Ltd

Mackereth, F.J.H., Heron, J. and Talling, J.F. 1989. Water Analysis. Freshwater      Biological Association, Cumbria, UK.

Mays, L.W., (1996), Water resources handbook, McGraw-Hill, New York. p:         8.27-8.28.

Odum, P. E. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sanders Company and Toppan Company Ltd. London.

Odum, E.P.1996. Dasar-Dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh Thahmosamingan. Yogyakarta: Gadjah Mada Press.

Odum, E.P 1998. Dasar Ekologi. (terjemahan) edisi 3. Gajah Mada Univ. Press Yogyakarta.

Ruttner. 1977. Fundamental of Limnology. University of Toronto Press. Canada.

Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur.

Wirosarjono, S. 1974. Masalah-masalah yang dihadapi dalam penyusunan criteria   kualitas air guna berbagai peruntukan. PPMKL-DKI Jaya, Seminar PengelolaanSumber Daya Air. , eds. Lembaga Ekologi UNPAD. Bandung, 27 - 29 Maret 1974, hal 9 – 15.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar